Sesuai dengan UU RI No. 18 tahun 1951 tentang Perubahan UU RI No. 15 tahun 1950 tentang Penggabungan Daerah-daerah Kabupaten Kulon-Progo dan Adikarto dalam Lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi satu Kabupaten dengan nama Kulon-Progo, bahwa penulisan Kulon Progo adalah dipisah

22 Desember Hari Ibu; Hargailah Ibu


Tanpa terasa, hari ini atau tepatnya Kamis, 22 Desember 2016, kita telah memperingati Hari Ibu yang ke-88. Namun sejauh ini, peringatan yang kita laksanakan setiap tahun ternyata belum mampu secara optimal menggugah kepedulian kita untuk berupaya memberi penghargaan yang layak buat ibu, pahlawan bagi keluarga, masyarakat dan bangsa kita. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya tindakan kita yang kurang pantas terhadap ibu, mulai dari membantah, menghardik, berlaku keras, hingga menyia-nyiakan hidupnya walaupun beliau dengan tulus telah mengasuh dan membesarkan kita. Sebagai anak, mestinya kita harus berupaya keras untuk membalas kebaikan ibu, bukan malah sebaliknya.


Hal yang lebih buruk teryata telah diperbuat oleh anak-anak kita terhadap ibunya. Karena tidak sedikit di antara mereka yang notabene menjadi harapan masa depan kita dan bangsa ini, telah mengalami degradasi penghargaan yang cukup serius terhadap jasa ibu. Mereka tidak lagi hormat dan menghargai ibunya bahkan cenderung berani menentang terhadap ibu. Bukan hanya berani tidak melaksanakan perintah, tetapi sudah berani melanggar larangan-larangan yang telah digariskan oleh ibu. Kasus-kasus kenakalan anak dan remaja seperti minum-minuman keras dan mabuk-mabukan, tindak kekerasan termasuk perilaku "nglithih", menyalahgunakan obat terlarang, atau berperilaku seks bebas secara langsung maupun tidak langsung menjadi contoh nyata kurangnya penghargaan anak-anak kita terhadap ibunya, karena apa yang mereka lakukan pasti bukanlah atas perintah ibu. Tetapi hal-hal yang justru dilarang oleh ibu. Ibu umumnya akan menjadi sasaran pertama dari kenakalan anak. Entah dengan cara minta uang jajan berlebih, protes terhadap pelayanan yang dianggap kurang sesuai dengan keinginannya, atau mulai berani menipu ibu terhadap apa-apa yang telah dilakukannya di rumah, di sekolah atau di lingkungan teman-teman sebayanya. Taruhlah ini sebagai salah satu akibat dari terbatasnya waktu ibu dalam mengasuh dan membina anak-anaknya. Namun rasa-rasanya perbuatan itu tidak pantas dilakukan terhadap ibu. Ini terutama bila sang anak mau sedikit berpikir bahwa ibunyalah yang telah mengandung, melahirkan dan merawatnya dikala mereka masih dalam posisi sangat lemah di dunia ini. Apalagi dalam tuntunan agama apapun, ibu selalu ditempatkan sebagai orang yang terhormat dalam keluarga. Sorga ada di telapak kaki ibu, demikian pepatah mengatakan.


Persoalannya, mengapa kita menjadi kurang begitu menghargai terhadap ibu walaupun jasa-jasanya terhadap kita, anak-anak kita, keluarga, masyarakat dan bangsa tidak bisa kita ukur dengan uang atau materi seberapapun jumlahnya? Jawabannya paling tidak menyangkut tiga hal. Pertama, kita terjebak pada pola pikir bahwa hidup kita harus dilayani oleh orang lain, bukan kita yang justru yang harus melayani orang lain termasuk ibu. Dengan konsep berpikir yang salah itu, kita selalu minta pelayanan terhadap ibu. Minta ini itu, tanpa kita memikirkan apa balasan kita terhadap pelayanan yang telah diberikan ibu. Kita telah terlalu egois terhadap diri kita sendiri dan tidak memikirkan kepentingan orang lain terutama ibu yang setiap hari telah dengan sabar dan penuh kasih sayag selalu berupaya mencukupi kebutuhan hidup kita.

Kedua, kita lupa bahwa ibu adalah manusia juga yang memiliki banyak keterbatasan. Ya keterbatasan waktu, ya keterbatasan tenaga. Sementara dari sisi ekonomi, ibu umumnya dalam posisi lemah karena penghasilannya yang kecil akibat terbatasnya waktu untuk bekerja atau justru menggantungkannya pada suami karena ia sudah tidak memiliki waktu yang cukup untuk mencari tambahan penghasilan. Anehnya, justru kita sering terlalu menuntut terhadap ibu dengan meminta sesuatu yang tak mungkin untuk dipenuhinya.


Ketiga, kita lupa bahwa ibu adalah orang yang memiliki perasaan dan hati nurani. Disaat kita merasa kecewa terhadap pelayanan ibu seperti masakan kurang enak, minuman kurang manis atau buah yang diberikan kurang segar, kita sering mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan ibu. Bahkan tidak jarang kita menohok dengan sikap dan perbuatan yang sungguh menyakitkan ibu, misalnya ngambek, tidak mau makan atau membuang makanan itu ke tempat sampah.


Sebenarnya menghargai ibu itu tidak harus dengan memberikan sesuatu yang istimewa, karena ibu dengan segala ketulusan hati dan kesadaran akan tugas tanggungjawabnya tidak pernah minta untuk diperlakukan secara berlebihan. Ibu juga tidak pernah minta dipuji atau disanjung-sanjung seperti anak kecil. Tidak pernah pula minta untuk dikasihani walaupun pekerjaannya selalu menumpuk dan tak pernah ada habis-habisnya. Sehingga menghargai ibu cukup ditunjukkan dengan sikap dan perbuatan yang sewajarnya, tidak dibuat-buat. . Kita harus bersikap ramah terhadap ibu, jangan lukai perasaan dan jangan pula disakiti hatinya. Sepanjang kita mampu, kita wajib membantu pekerjaannya, atau paling tidak tidak menambah beban kerjanya. Kita juga harus pula memberi waktu buat ibu untuk beristirahat, agar badannya selalu segar dan sehat untuk melaksanakan tugas sehari-hari.


Namun dari semuanya itu yang lebih penting, sebagai anak kita harus mampu memberi penghormatan yang layak pada ibu. Kita harus mampu menempatkan ibu sebagai orangtua yang layak diteladani, didengarkan nasehatnya, dan dilaksanakan perintah-perintahnya. Jangan sekali-kali membantah perintah ibu sepanjang itu baik untuk dilakukan. Jangan pula seenaknya melanggar larangan ibu, karena sebenarnya semuanya itu baik untuk kita. Tidak ada seorang ibu pun di dunia ini yang menginginkan anaknya terjerumus dalam penderitaan, dunia kemaksiatan atau dunia kekerasan lainnya. Itu artinya, kita harus selalu berprasangka baik terhadap ibu. Banyaknya nasehat ibu yang sering kita anggap sebagai terlalu mencampuri urusan kita, semata-mata hanyalah ungkapan harapan ibu terhadap kita agar menjadi manusia yang baik dan berguna bagi keluarga, masyarakat, nusa maupun bangsa.


Dengan demikian, memperingati hari ibu, tidaklah perlu dengan pesta pora yang menghabiskan dana sekedar untuk menyenangkan hati ibu sesaat. Namun yang perlu dilakukan adalah memberi penghargaan yang layak pada ibu melalui perenungan kembali akan peran dan jasa ibu sebagai pahlawan keluarga dan bangsa yang mendorong kita untuk bersikap dan berbuat baik pada ibu, menghormati posisinya sebagai orangtua serta selalu menempatkan ibu sebagai figur yang patut dicontoh dan diteladani. Dalam konteks yang lebih luas, seiring dengan semakin modernnya kehidupan yang memposisikan ibu sebagai salah satu penentu keberhasilan pembangunan di negeri ini, sudah selayaknya kita juga memberi kesempatan pada ibu untuk berbuat lebih banyak melalui peran dan fungsinya sesuai kapasitas atau potensi yang dimiliki. Terlebih kita sudah memahami, ibu bukan sekedar tiang keluarga, tetapi juga tiang negara. Sehingga optimal tidaknya ibu dalam memainkan peran dan fungsinya sebagai pendidik/pengasuh anak-anaknya maupun sebagai warga negara, akan menentukan wajah negeri ini di masa depan.


Drs. Mardiya, Ka Sub Bid Advokasi Konseling dan Pembinaan KB dan Kesehatan Reproduksi BPMPDPKB Kab. Kulon Progo.

 

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak

.:: Berita Lainnya ::::::::.

Pelatihan dan Pemagangan di BLK Meningkat

Job Fair Kulon Progo 2018 Dibuka

Bimtek Kulon Progo SMART City

Wakil Bupati Halal Bi Halal Ke Pondok Pesantren

Syawalan Gubernur DIY di Kulon Progo



.:: Berita Subdomain ::::::::.

PENGUMUMAN PENDAFTARAN CALON PESERTA PELATIHAN KEBANDARUDARAAN AIRLINES STAFF dan GROUND STAFF 2018

SAFARI JUM'AT DI MASJID NUR HIDAYAH NANGGULAN

SAFARI JUM'AT DI MASJID NUR HIDAYAH NANGGULAN

Geopark Indonesia Mendunia

Transformasi Koperasi Indonesia

Kabupaten Kulon Progo Melepas 333 Calon Haji 2018

Asyiknya Nobar Piala Dunia di Perpusda

Workshop Implementasi District Health Information System Software (DHIS2)

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulon Progo Pererat Kerjasama Kemitraan dengan BPBI Abiyoso

Menyongsong API: Dinas Pariwisata Kulon Progo gelar Jumpa Pers

10 Motif Batik Paling Populer di Indonesia

Pak Ndut (Drs. Mardiya) Suarakan Program Pembangunan Lewat Lagu

Peserta Lolos Seleksi Administrasi Pengadaan Tenaga Bantu Pendidikan Non PNS Gelombang II

ATM, Jurus Jitu Memulai Usaha

Pembinaan Linmas Desa Karangsari Persiapan Pengamanan Pemilu 2019

Pembuatan Sumur Bor oleh Tagana Kab. Kulon Progo

Harganas Kulon Progo Dipusatkan di Sentolo

NASA NANGGULAN PENUH HARU DAN PENGHARAPAN..

Pertemuan Forum Masyarakat Kearsipan di Gunung Kidul

Surat Edaran Tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Tahun 2018

Lowongan Kerja GURU AGAMA ISLAM - SD MUHAMMADIYAH BEDOYO

HATI-HATI PENIPUAN PENERIMAAN PNS 2018

Acara Tahunan Jogja OPEN Artistic Swimming Resmi Dibuka

Diskominfo Kulon Progo Tuntas Selenggarakan Forum Data

Gaungkan Semarak Asian Games



.:: Artikel ::::::::.

Devinfo dan Manfaatnya Dalam Pengembangan Program KKbpk

Mengenal Sekolah Siaga Kependudukan

Mewujudkan Masyarakat Berwawasan Kependudukan Melalui Pendidikan Kependudukan

Gerakan Berbasis Hati

Tantangan Pengendalian Penduduk Kulon Progo Tahun 2018