Pemerintah Kabupaten Kulon Progo
Rubrik : Berita Utama
BPMPDPKB Gelar Saresehan Isu-isu KRR
2013-05-10 09:24:47 - by : Mardiya

Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPDPKB) bekerja sama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIY menggelar Saresehan Isu-isu Kesehatan Reproduksi Remaja yang dikuti 30 peserta dari unsur SKPD KB, Lintas SKPD, LSM, TP PKK, Perwakilan PIK Remaja, Forum Guru Kespro, Perwakilan OSIS, Organisasi Perempuan, Organisasi Keagamaan dan Organisasi Kepemudaan, Selasa (7/5). Pertemuan saresehan yang dibuka oleh Ka BPMPDPKB Kabupaten Kulon Progo Drs. M Rosyaduddin ini menghadirkan tiga narasumber yaitu: (1) Sekretaris BPMPDPKJB Drs. Sigit Wisnutomo, MSc yang membahas masalah Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), (2) Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kulon Progo dr. Sandra Said, MKes, yang membahas masalah Dampak Pernikahan Dini terhadap Kesehatan Reproduksi (3) Ka Sub Bid Advokasi Konseling dan Pembinaan KB dan Kesehatan Reproduksi Drs. Mardiya yang membahas masalah Tantangan dan Hambatan Pelaksanaan 8 Fungsi Keluarga Pasangan Usia Dini.



Dalam paparannya, Drs. Sigit Wisnutomo, MSc menyatakan bahwa PUP bukan sekedar menunda usia perkawinan sampai usia tertentu saja (minimal 20 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki) tetapi mengusahakan agar kehamilan pertamapun terjadi pada usia yang cukup dewasa. Bahkan harus diusahakan apabila seseorang gagal mendewasakan usia perkawinannya, maka penundaan kelahiran anak pertama harus dilakukan. Dalam istilah KIE disebut sebagai anjuran untuk mengubah bulan madu menjadi tahun madu. PUP itu sendiri diperlukan karena berkeluarga itu membutuhkan persiapan. Dengan berkeluarga bukan berarti masalah hidup selesai, namun justru bertambah. Selain itu berani berkeluarga harus berani mengekang diri, memiliki toleransi dan pengertian yang besar, jiwa legowo, berani jujur mau berbagi dan sebagainya.



Sementara itu, dr. Sandra Said, MKes dalam paparannya menegaskan bahwa pernikahan dini membawa dampak pada masalah kesehatan reproduksi antara lain: (1) Tingginya angka kesakitan dan kematian ibu. Perempuan usia 10-14 tahun beresiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun serta meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun (2) Anatomi tubuh anak belum siap untuk hamil dan bersalin sehingga bisa terjadi obstructed labour atau obstetric fistula. (3) Peningkatan risiko penyakit menular dan penularan infeksi HIV. Sementara resiko lain dari kehamilan di usia dini diantaranya kurangnya perawatan senam hamil dan sebelum melahirkan,tekanan darah tinggi, kelahiran premature, berat badan lahir rendah, dan depresi pasca melahirkan serta timbul perasaan sendiri dan terasing.



Sedangkan Drs. Mardiya dalam paparannya menyatakan bahwa banyak tantangan han hambatan yang dihadapi Pasangan Usia Dini dalam pelaksanaan 8 fungsi keluarga, antara lain: (1) Fungsi Keagamaan, Pasangan Usia Dini belum mampu membina norma/ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup seluruh anggota keluarga dan belum mampu memberi contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari dalam pengamalan ajaran agama yang dianut. (2) Fungsi Sosial Budaya, Pasangan Usia Dini belum mampu memberi contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari dalam pengamalan ajaran agama yang dianut serta belum mampu membina budaya keluarga yang sesuai, selaras dan seimbang dengan budaya masyarakat / bangsa yang menunjang terwujudnya Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS), (3) Fungsi Cinta Kasih, Pasangan Usia Dini belum mampu membina tingkah laku saling menyayangi baik antar anggota keluarga maupun antar keluarga yang satu dengan lainnya secara kuantitatif dan kualitatif, serta elum mampu membina rasa, sikap dan praktek hidup keluarga yang mampu memberikan dan menerima kasih sayang sebagai pola hidup ideal menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera, (4) Fungsi Melindungi, Pasangan Usia Dini belum mampu memenuhi kebutuhan rasa aman anggota keluarga baik dari rasa tidak aman yang timbul dari dalam maupun dari luar keluarga serta belum mampu membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai bentuk ancaman dan tantangan yang datang dari luar. (5) Fungsi Reproduksi, Pasangan Usia Dini belum mampu membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan reproduksi sehat baik bagi keluarga maupun anggota keluarga sekitarnserta mampu memberikan contoh pengamalan kaidah-kaidah pembentukan keluarga dalam hal usia, pendewasaan fisik maupun mental, (6) Fungsi Sosialisasi Pendidikan, Pasangan Usia Dini belum mampu belum mampu membina proses pendidikan dan sosialisasi anak tentang hal-hal yang diperlukan untuk meningkatkan kematangan dan kedewasaan fisik / mental yang tidak atau kurang di berikan oleh lingkungan sekolah maupun masyarakat serta belum mampu membina proses pendidikan dan sosialisasi yang terjadi dalam keluarga sehingga tidak saja dapat bermanfaat positif bagi anak, tetapi juga bagi orang tua dalam rangka perkembangan dan kematangan hidup bersama menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera. (7) Fungsi Ekonomi, Pasangan Usia Dini belum mampu melakukan kegiatan ekonomi baik di luar maupun di dalam lingkungan keluarga dalam rangka menopang kelangsungan dan perkembangan kehidupan keluarga serta belum mampu mengelola ekonomi keluarga sehingga terdapat keserasian,keselarasan dan keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran, (8) Fungsi Pembinaan Lingkungan, Pasangan Usia Dini belum mampu membina kesadaran sikap dan praktek pelestarian lingkungan hidup yang serasi, selaras dan seimbang antara lingkungan keluarga dengan lingkungan hidup masyarakat di sekitarnya serta belum mampu membina kesadaran, sikap dan praktek pelestarian lingkungan hidup sebagai pola hidup keluarga menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera.



Usai pemaparan dilanjutkan dengan kegiatan tanya jawab dan diskusi. Waktu yang tersedia di manfaatkan oleh Pengurus OSIS SMK YPKK, Ketua Karang Taruna Kabupaten Kulon Progo, Ketua Pemuda Muhammadiyah, Ketua Nasyiyatul Aisyiyah, dan Forum Guru Kespro serta utusan dari Kantor Pengadilan Agama Negeri Wates untuk bertanya serta mengemukakan pandangan dan pengalamannya terkait upaya pencegahan pernikahan usia dini. ()

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo : http://www.kulonprogokab.go.id/v21
Versi Online : http://www.kulonprogokab.go.id/v21/?pilih=news&aksi=lihat&id=2752